Kamis, 03 September 2009

Pudarnya Pesona Cleopatra.

Senja seneng cerita ini makanya di tampilkan di blog Senja… semoga bisa menjadi bahan perenungan…. Dan semoga pak Habiburrahman El Shirazy tidak keberatan terimaksih bapak…

Pudarnya Pesona Cleopatra.
(Habiburrahman El Shirazy)

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalamkandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantrenMangkuyudan Solo dulu" kata ibu."Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besananuntuk memperteguh tali persaudaraan.Karena itu ibu mohon keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada mengiba.Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah.Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harusmengorbankan diriku. Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yangdatang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku.Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amatkucintai.

Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia.Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai,wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat beningkhas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkanbibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang.

Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampatanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana.Lantunan shalawat Nabi-pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihanatersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya! Layaknya pengantin baru, kupaksakan untukmesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yangterbiasa membaca ayat-ayat-Nya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dankepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan,rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istrisendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh,agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya,tetapi kujawab " tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa,mungkin masih harus belajar berumah tangga"Ada kekagetan yang kutangkap di wajah Raihana ketika kupanggil 'mbak', "kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidakmencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam" jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian diaterisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untukmenjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku di duniaini". Raihana mengiba penuh pasrah.Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karenakepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidakberjalan.

Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai di rumah habismaghrib, bibirku pucat,perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihanamemandangiku dengan khawatir."Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi denganair panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih"lanjutnya.Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kataRaihana.Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupamembawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawahanduk."Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku danmemijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu." Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakaibalsam, minyak putih, atau jamu?" tanya Raihana sambil menuntunku kekamar."Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukanuntuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih." Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihanasambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabarmengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacanghijau.Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana dudukdi kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untukmakan malam di istananya."Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkandenganmu" kata Ratu Cleopatra. "Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocokdan berniat memperkenalkannya denganmu".Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana,kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali.Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudahjam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku.Aku terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Maskurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepasmukenanya,mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi ituindah sekali, tapi sayang terputus.Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku danmimpi-mimpiku.Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuksholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu darimana sulitnya.Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalamsuasana konyol.Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta,entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra." Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akandatang termasuk ibundamu.Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yangdieluk-elukan keluarga tidak datang"Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dansegelas wedang jahe.Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Ma..maafjika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya,lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din.Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekakdalam tenggorokan." Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelanmenghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya iabahagia dipanggil "dinda"." Matanya sedikit berbinar. "Te.terima kasih.Di.dinda, kita berangkatbareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatapwajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyumbersinar dibibirnya." Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas,biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?".Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanyaselama ini.Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku.Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini,kutukku pada diriku sendiri.Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi,setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun.Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Akumerasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihanamembawa sejarah baru lembaran pernikahan kami.Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuhcinta, dan penuh bangga." Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang palingideal dalam keluarga!Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan ibundaku sertakerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia.Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal. Apanyayang ideal.Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya danhafal Al Quran lantas disebut ideal?Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasacinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain.Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cintayang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimilikiRaihana.

Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat.Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjagakewibawaanku di mata keluarga.Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjungkebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuatpusing dengan sikapku.Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentangketurunan." Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanyaya, padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata ibuku." Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, akutergagap dan mengangguk sekenanya.Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan.Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukankehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku.Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorangistri. Raihana hamil. Ia semakin manis.Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta takkunjung tiba.Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikanlagi. Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diamdan mendesah sedih." Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku. Dan akhirnyadatanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam.Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasankesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku takmenaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan.Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biayakelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM.Aku taruh dibawah bantal, no pinnya sama dengan tanggal pernikahankita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega.Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian.Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukanmasalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat akupulang kehujanan.Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas.Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual.Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telahmenyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angindengan mengeroki punggungku,lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam ituaku benar-benar tersiksa dan menderita.Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalandalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh.Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkansholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihanmutu dosen mata kuliah bahasa arab.Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir.

Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mEsir.Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosenbahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir.Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit danterlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi."Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " Orang Jawa"." Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyaksaudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah.Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?"."Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran"." Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?"" Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah denganorang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang"." Bagaimana itu bisa terjadi?". " Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itucantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderitaseperti ini.Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, sayaberangkat ke Mesir dengan biaya orang tua.Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga.Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus denganpredkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumahtempat saya tinggal menyukai saya.Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidakpakai jilbab.Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadissecantuk itu.Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyataperasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan.Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas,akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkandengan menikahinya.Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-temanyang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir,kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah,dan berjilbab.Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuanagamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya.Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntutdiberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesaiS1 saya kembali ke MEdan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia.KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan.Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasminmengajak ke Mesir menengok orang tuanya.Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin.Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketigalahir, tetapi pemasukan tidak bertambah.Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahunsekali YAsmin tidak bisa.Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anakterpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal.Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihatteman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai denganistrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan.Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahudengan masakan Indonesia.Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka.Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut,saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengansepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telahdiperbudak dengan kecantikannya.Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Merekamenjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecildan sempit.

Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintisbisnis saya yang bangkrut.Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir.Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan." Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikanaku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir".Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa diabercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya.Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan.Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu sayadilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganyayang membelaku.Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi beritabohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi.

Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligusmendapat salinan surat nikah Yasmin dengann temannya.Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunyapulang".Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnyamenyadarkanku.

Aku teringat Raihana.Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan akuberpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap di hati.Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yangkeluar adalah pengabdian dan pengorbanan.Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipunhatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyaladidindingnya.Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya?Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan.

Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku inginmembelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi.Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku.Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambiluang tabungan, yang disimpan di bawah bantal.Di bawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahkuterkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat suratcinta untuk istriku.Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila!Jangan-jangan istriku serong..Dengan rasa takut kubaca surat itu satupersatu.

Dan Rabbi.ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yangselama ini aku zhalimi.Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akanbelaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luarbiasa.Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah,ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku. "Rabbi dengan penuhkesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb.Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Muyang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan.Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba.." tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yangkerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkanderita jiwa ini kehadirat-Mu.Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dankepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku danmenelantarkanku.Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaankupadanya. Masih kurang apa baktiku padanya?Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Muini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karenakelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita.Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. YaAllah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.Ya Allah, Engkau Maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu.Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu.Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini.Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yangluar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihanaterbayang.Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangannya yang halus bersimpuh memeluk kakiku,semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuanterasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku.Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yangdatang di hati.Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalamhatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat di mata.Aku tiba-tiba begitu merindukannya.

Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebutkendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetessepanjang jalan.Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahandengan nafas panjang dan kuusap air mataku.Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?".Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apasebenarnya yang telah terjadi." Raihana.istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya". " Ada apa dengan dia". " Dia telah tiada". " Ibu berkata apa!". " Istrimu telahmeninggal seminggu yang lalu.Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia danbayinya tidak selamat.Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segalakekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaftelah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kaumeridhionya".Hatiku bergetar hebat. " Ke.kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?"." Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseoranguntuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada.Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidakingin mengganggumu.Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selamapelatihan.Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami".

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk.Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku.Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkanaku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dantersenyum padanya.Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiadaterkira.Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburanpinggir desa.Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihanatertulis disana.Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luarbiasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua...

Sumber : Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi IslamPembangun Jiwa )Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best sellerAyat-ayat cinta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar