Sabtu, 17 Juli 2010

Kabupaten tempat tinggalku -KABUPATEN NGANJUK-



Kabupaten Nganjuk adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Nganjuk. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Madiun di barat.

Nganjuk juga dikenal dengan julukan Kota Angin.


Geografi
Kabupaten Nganjuk terletak antara 11105' sampai dengan 112013' BT dan 7020' sampai dengan 7059' LS. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar ± 122.433 Km2 atau 122.433 Ha yang terdiri dari atas:

* Tanah sawah 43.052.5 Ha
* Tanah kering 32.373.6 Ha
* Tanah hutan 47.007.0 Ha

Dengan wilayah yang terletak di dataran rendah dan pegunungan, Kabupaten Nganjuk memiliki kondisi dan struktur tanah yang cukup produktif untuk berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan sehingga sangat menunjang pertumbuhan ekonomi dibidang pertanian. Kondisi dan struktur tanah yang produktif ini sekaligus ditunjang adanya sungai Widas yang mengalir sepanjang 69,332 km dan mengairi daerah seluas 3.236 Ha, dan sungai Brantas yang mampu mengairi sawah seluas 12.705 Ha.

Jumlah curah hujan per bulan selama 2002 terbesar terjadi pada bulan Januari yaitu 7.416 mm dengan rata-rata 436 mm. Sedangkan terkecil terjadi pada bulan November dengan jumlah curah hujan 600 mm dengan rata-rata 50mm. Pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober tidak terjadi hujan sama sekali.

Sejarah
Nganjuk dahulunya bernama Anjuk Ladang yang dalam bahasa Jawa Kuna berarti Tanah Kemenangan. Dibangun pada tahun 859 Caka atau 937 Masehi.

Pada masa penjajahan Belanda, kabupaten ini disebut sebagai Kabupaten Berbek dengan Nganjuk sebagai ibu kotanya.

Pembagian administratif
Nganjuk mempunyai 20 kecamatan dan 284 desa/kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

1. Bagor
2. Baron
3. Berbek
4. Gondang
5. Jatikalen
6. Kertosono
7. Lengkong
8. Loceret
9. Nganjuk
10. Ngetos
11. Ngluyu
12. Ngronggot
13. Pace
14. Patianrowo
15. Prambon
16. Rejoso
17. Sawahan
18. Sukomoro
19. Tanjunganom
20. Wilangan


Transportasi
Nganjuk dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta, serta menjadi persimpangan dengan jalur menuju Kediri. Nganjuk juga dilintasi jalur kereta api Surabaya-Yogyakarta-Bandung/Jakarta.

Obyek Wisata
Beberapa obyek wisata di Nganjuk adalah

* Air Terjun Sedudo, yang terletak di lereng Gunung Liman,
* Monumen Gerilya Jenderal Sudirman di Bajulan - Loceret dan Sawahan,
* Air terjun Roro Kuning di Bajulan,
* Candi Ngetos di Kecamatan Ngetos,
* Jurang gatuk adalah sebuah jurang yang merupakan perpaduan dari lereng yang menyempit dan ada aliran air yang jernih juga ada kolam yang alami berada disana di kecamatan Pace, sengkolak di desa Gondang,
* Candi Lor di desa Candirejo, Kecamatan Loceret yang dibangun oleh Mpu Sindok pada tahun 859 Caka atau 937 M sebagai Tugu Peringatan kemenangan atas peperangan melawan musuhnya dari Melayu. Di sini juga terdapat batu bertulis yang memuat sebutan (toponimi) yang sangat dekat sekali ucapannya dengan Nganjuk, yakni Anjuk Ladang. Candi Lor ini merupakan bukti sejarah tentang keberhasilan Mpu Sindok mengalahkan musuhnya, dan sekaligus menandai berdirinya Kota Nganjuk.

Tokoh Nganjuk

Tokoh-tokoh yang dilahirkan di Nganjuk adalah:

* Dr. Soetomo, Pahlawan perintis kemerdekaan Indonesia, pendiri Boedi Oetomo yang merupakan organisasi modern pertama di Indonesia.
* Marsinah, aktivis buruh wanita.
* Harmoko, mantan politikus di era Orde Baru, mantan Ketua MPR.
* Eko Patrio, merupakan Artis Ibukota, Anggota Pelawak Patrio dan kini menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014.
* Vita KDI, merupakan pemenang KDI 5.

Kesenian Tradisional

* Tari Tayub
* Wayang Timplong
* Tari mung dhe
* Jaranan

Makanan Khas

* Nasi becek, adalah sejenis gulai kambing, tapi memiliki rasa yang khas dengan ditaburi irisan daun jeruk nipis
* Dumbleg, dumbleg adalah sejenis dodol terbuat dari ketan. makanan ini hanya ada pada hari-hari tertentu di pasar Gondang dan pasar rejoso
* onde-onde njeblos : semacam onde-onde tapi tidak berisi dan seperti bola yang meledak ditaburi wijen
* nasi pecel: semacam nasi yang ada sayurnya(kulup)di taburi dengan pedasnya sambal pecel, ciri khas asli nganjuk sangat pedas dan rempeyek yang renyah
* Nasi sambal tumpang, semacam sambal yang dibuat dari tempe dilumatkan dengan bumbu dan rasanya gurih dan pedas.
* Krupuk Upil, adalah krupuk yang digoreng tanpa minyak tetapi menggunakan pasir

SUMBER http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Nganjuk

ayuk wisata ke AIR TERJUN SEDUDO....




Air Terjun Sedudo adalah sebuah air terjun dan obyek wisata yang terletak di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan ibukota kabupaten Nganjuk. Berada pada ketinggian 1.438 meter dpl, ketinggian air terjun ini sekitar 105 meter. Tempat wisata ini memiliki fasilitas yang cukup baik, dan jalur transportasi yang mudah diakses.

Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada bulan Sura (kalender Jawa). Konon mitos yang ada sejak zaman Majapahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut.

Setiap Tahun Baru Jawa, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual, yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda. Hingga sekarang pihak Pemkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual Mandi Sedudo setiap tanggal 1 Suro.

5 WAKTU YANG KITA RINDU

Sahabat, Apa yang akan kita lakukan ketika ada seorang yang kita segani menelpon kita ? Respon apakah yang akan kita berikan ketika tiba-tiba seorang yang kita cintai memanggil kita ? Beranikah kita tidak menghadiri sebuah undangan yang diberikan oleh Presiden Directur kita ? Atau bagaimana perasaan kita ketika Presiden SBY mengundang kita di Istana Negara ? kita semua pasti tau jawabannya.


Lalu bagaimana perasaan hati kita, respon kita, ketika yang mengundang atau yang memanggil adalah Dzat yang sangat menyayangi kita, Dzat Yang Memberi kita segala-galanya, Dzat Yang Menggerakkan persendian tulang belulang kita, Yang Mengalirkan darah kita, Yang Menghembuskan nafas kita, Yang Membuka mata dan pendengaran kita ? akankah kita berpura-pura tidak mendengar karena padatnya aktifitas kita ? akankah kita bermalas-malasan karena secara materi kelihatannya tidak menguntungkan ?


Sahabat, 5 kali sehari Allah SWT yang wajib kita Cintai dan Kita Agungkan mengundang dan memangil-manggil kita untuk hadir di RumahNYA dengan ribuan Malaikat yang akan menyambut kedatangan kita dengan do'a yang tak pernah henti, Allah SWT menunggu keluh kita, menunggu curhat kita, dan menunggu segala do'a dan permintaan kita karena di TanganNYA telah ada kekayaan, kebahagiaan, jalan keluar dan Kasih Sayang yang akan diberikan kepada kita, akankah kita biarkan sepi Rumah-Rumah Allah SWT yang telah kita bangun dengan kokoh dan megah ?


Kisah dibawah ini semoga menggugah diri kita, untuk segera memenuhi PanggilanNYA dalam 5 kali waktu yang mestinya kita rindukan.


Sudah berkali-kali, saat adzan berkumandang, pasti terparkir sebuah motor, dengan gerobak baso diatasnya....disebuah pelataran mesjid, dikomplek tempat tinggalku.

Hingga suatu saat, setelah sholat Magrib, aku coba menyapanya...saat itu lagi hujan besar, pasti nikmat, sambil menyantap baso hangat-hangat..

Mulai jam berapa keluar mas....tanyaku, saya keluar habis zuhur, kata si abang baso, sebut saja mas Amin. dia berkeliling hingga setelah isya...dari obrolan panjang, tersyirat...kata2 yang sebenarnya sudah lama terpatri dalam hatiku...

" SAYA DAGANG BASO, UNTUK ISI WAKTU SAJA AGAR TAK SIA-SIA SAMBIL IKHTIAR CARI NAFKAH PAK....., YANG UTAMANYA SAMBIL MENUNGGU WAKTU SHOLAT ". Subhanallah.., jadi Panggilan Allah SWT ( Adzan/Waktu Sholat ) adalah Momen Terbaik dan Tertinggi diatas segala aktifitas duniawi kita.


Disuatu kesempatan, saat adzan Isya, kembali aku temukan...sebuah peristiwa yg mengharukan, saat Tukang baso ini dikerumuni calon pembeli...dengan santunnya dia berucap... maaf sudah Adzan isya' saya tinggal dulu ke mesjid ya...dan dengan langkah pasti, dia Tinggalkan kerumunan pembeli itu... melaju mantap ke rumah Allah...


ya Allah...Engkau yang membagi-bagikan Rejeki, Engkau yang maha Kuasa atas segala sesuatu .. limpahkan karunia terbaik Mu kepada "mas Tukang Baso Ini"..jadikan kami menjadi hamba-hamba yang selalu ingin dekat dengan Mu..amin


mari, kita segerakan panggilan Allah lewat Adzannya...kita tinggalkan apapun kegiatan kita, Allah segalanya...semoga Allah mudahkan langkah-langkah kita


"Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku' (dalam keadaan berjamaah)." (Al Baqoroh: 43).


Rosululloh telah bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan sholat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama'ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhori)


Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata, "Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya, `Apakah kamu dengar azan shalat?`. `Ya`, jawabnya. `Datangilah`, kata Rasulullah SAW. (HR Muslim 1/452)


Sahabat besar Ibnu Mas'ud rodhiyallohu'anhu berkata tentang orang-orang yang tidak hadir dalam sholat jama'ah: "Telah kami saksikan (pada zaman kami), bahwa tidak ada orang yang meninggalkan sholat berjama'ah kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit".


JADI KIRA-KIRA MENURUT ANDA SHOLAT BERJAMA'AH DI MASJID BAGI LAKI-LAKI ITU HUKUMNYA APA ?

http://www.rumah-yatim-indonesia.org

Maaf, Jangan Bantu Aku ( inilah bukti penyesalanku )

Jalannya tertatih menapaki beberapa anak tangga masjid, di setiap anak tangga ia berhenti untuk mengambil nafas panjang. Wajahnya menyeringai setiap kali kakinya menapaki anak tangga, lenguhan nafasnya lumayan terdengar dari jarak beberapa meter. Namun dari bibirnya selalu keluar kalimat “Allahu Akbar”. Dan ucapan “Alhamdulillah” penuh perasaan spontan keluar dari lelaki tua itu setelah anak tangga terakhir berhasil dicapainya. Matanya berbinar, wajahnya berseri sambil melangkah perlahan memasuki ruang utama masjid.

Ia pun mengambil posisi di sisi dinding serambi masjid untuk melaksanakan sholat sunnah sebelum sholat fardhu. Tubuhnya gemetar sepanjang ia berdiri, mungkin alasan itulah ia memilih posisi di sisi dinding agar bisa berpegangan jika hendak bangun dari sujud atau duduk untuk berdiri lagi. Demikian adanya yang terjadi, kakinya gemetar menahan tubuhnya, sedangkan ia harus bersusah payah saat harus berdiri lagi. Sebuah perjuangan tengah dipertontonkan oleh lelaki tua itu, mata ini tak ingin lepas dari gerak-geriknya yang semakin memikat.

Tak sesederhana yang tampak sekilas dari perjuangan sholat yang tengah diperagakan lelaki tua itu. Mulai dari cara ia berjalan memasuki halaman masjid, kemudian tertatih sambil meringis menapaki satu persatu anak tangga, dilanjutkan sholat sunnah di sisi dinding sambil kaki terus gemetar. Nafasnya tersengal menjalani semua itu, bagaikan seorang yang tengah memanggul beban berat di pundaknya yang sama sekali tak bisa ia lepaskan namun harus tetap dipikul beban itu. Kasihan, perasaan ini yang akhirnya terbersit di benak.

Sesaat sebelum iqomat berkumandang, saya mendekati lelaki tua ini. Setelah berbasa-basi, berkenalan dan mencoba mengakrabinya, saya menyampaikan rasa iba saya kepadanya dan menyarankan untuk sholat sambil duduk saja jika memang tak kuat untuk berdiri.

Seketika matanya menatap saya tajam tepat ke arah mata saya. Merasa bersalah saya mengeluarkan kata-kata itu kepadanya. “Maaf pak bila kata-kata saya salah, saya hanya…”

Lelaki tua itu segera menepuk pundak saya dan berkata, “Anak muda… saya memaksakan diri berjalan tertatih-tatih dari rumah ke masjid, memaksakan diri sambil menahan sakit menaiki anak tangga satu persatu, memaksakan diri untuk tetap berdiri dalam sholat saya agar Allah tahu betapa menyesalnya saya yang telah menyia-nyiakan masa muda dengan tidak banyak beribadah…”

“Waktu masih gagah seperti Anda, saya tidak banyak belajar agama apalagi menjalankannya. Banyak perintah Allah saya abaikan, sholat hampir selalu saya tinggalkan. Sekarang sudah setua ini saya baru sadar betapa nikmatnya beribadah dan berdekatan dengan Allah. Karenanya, saya abaikan rasa sakit dan letih ini untuk terus sholat dan memerbanyak ibadah lainnya. Saya… hanya ingin Allah melihat saya menyesal telah mengabaikan Dia selagi saya muda” matanya masih menatap saya yang tertunduk.

Iqomat pun berkumandang, ia menolak untuk saya bantu berdiri. Saya jadi malu sendiri, bukan kepada lelaki tua itu, melainkan pada diri sendiri yang masih gagah namun belum maksimal beribadah. Malu kepada Allah yang masih memberikan saya kemampuan untuk banyak beribadah. Astaghfirullah…

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa " (QS.Ali Imron 3:133)

Sahabat……., tak ada kata telat bagi Allah untuk menerima taubat kita, justru Allah sangat sangat rindu dan sangat-sangat bahagia ketika kita berjuang dengan segala keterpaksaan meninggalkan segala bentuk bentuk khilaf dan dosa yang masih sangat susah untuk kita tinggalkan, jangan pula merasa sudah sempurna dengan segala amal yang telah kita kerjakan, maka rasa harap dan takut kita kepada Allah harus senantiasa kita semai dan kita rawat.
========================================================================

Info lebih lengkap http://www.rumah-yatim-indonesia.org/

Senin, 25 Januari 2010

Kalung Alifia Bilqis

Just wanna be honest…

Beberapa hari ini bee mengalami masa dimana bee musti lebih tegar dan kuat lagi. Rindu ½ mati mengingatkan bee dengan beberapa hal yang membuat bee lebih bersemangat meniti hidup, ya dan entah mengapa tiap malam bee ditemani dengan mimpi yang sama, ya sama seperti kejadian beberapa bulan lalu, yang sampai sekarang masih menguatkan hati bee, walaupun bee sudah pamit, demi menjaga dan membersihkan niat ini. Dan bee merasa yakin, semakin didekatkan… langkah yang terkadang terseok dan akan tumbang ditegakkan kembali oleh-Nya.
Mimpi semalam sungguh membuat bee semakin tegar menapaki jlan nie, bermain piano dengannya, setelah sholat berjamaah melepas penat dan lelah setelah seharian berkecamuk dengan kefanaan dunia hanya mengharap keridhoan-Nya… sungguh suatu hal yang luar biasa, setelah sekian lama, dan semoga dimudahkan….
Sebuah prolog, ada kisah indah setelah ini, kisah yang membuat hati kita akan terbuka dan percaya akan kuasa-Nya, saat kerinduan bersua dengan-Nya membuncah….


Kalung Alifia Bilqis

Ini cerita tentang Bilqis, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Bilqis menemani Umi-nya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Bilqis melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Bilqis sangat ingin memilikinya.

Tapi... Dia tahu, pasti Umi-nya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji : Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Uminya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya : "Umi,bolehkah Bilqis memiliki kalung ini ? Umi boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " Sang Umi segera mengambil kotak kalung dari tangan Bilqis.Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Bilqis yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten...

"Oke ... Bilqis, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Umi akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?" Bilqis mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya."Terimakasih..., Umi"

Bilqis sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Uminya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata uminya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...

Setiap malam sebelum tidur, Abi Bilqis akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Abi bertanya "Bilqis..., Bilqis sayang ngga sama Abi ?"
"Tentu dong... Abi pasti tahu kalau Bilqis sayang Abi !"
"Kalau begitu, berikan kepada Abi kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Abi ! Abi boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Abi mencium pipi Bilqis sebelum keluar dari kamar Bilqis.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Abi bertanya lagi, "Bilqis..., Bilqis sayang nggak sih, sama Abi ?"
"Abi, Abi tahu bukan kalau Bilqis sayang sekali pada Abi ?".
"Kalau begitu, berikan pada Abi kalung mutiaramu."
"Jangan Abi... Tapi kalau Abi mau, Abi boleh ambil boneka Barbie ini.. "
Kata Bilqis seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Abi masuk kekamarnya, Bilqis sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Bilqis rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan.
Dari matanya,mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya...
"Ada apa Bilqis, kenapa Bilqis ?"

Tanpa berucap sepatah pun, Bilqis membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya " Kalau Abi mau... ambillah kalung Bilqis"

Abi tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Bilqis.
Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih... sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Bilqis...

"Bilqis... ini untuk Bilqis. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"

Ya..., ternyata Abi memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Bilqis.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Bilqis :
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan...

Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Mencintai Untuk Dicintai

Mencintai Untuk Dicintai
By:Muhammad Agus Syafiee
Catatan nie Bilqis dapat dari sahabat- Ukhty Mia- semoga manfaat. Dan semoga bernilai pahala di sisi Alloh amin.

Malam temaram menghadirkan kebahagiaan pada dirinya. Perempuan cantik itu nampak gembira, kue ulang tahun dan makan malam telah dipersiapkan sejak tadi. Dia bernyanyi dengan penuh kegembiraan, teringat dulu sewaktu awal perkenalannya, pemuda itu yang kini telah menjadi suaminya memberikan sekuntum bunga pada hari ulang tahunnya yang diberikan di tengah hujan lebat. Dirinya tertawa kecil seolah masa indah itu hadir. Boneka Winnie De Pooh dipeluknya erat. Kerinduan menghinggapi dirinya begitu sangat mendalam. Tak lama kemudian HP-nya berbunyi, SMS dari suami tercinta dibacanya, 'Sayang, maaf aku malam ini tidak bisa menemanimu, ada meeting mendadak nih, pulangnya agak malam.. Happy B' day ya..' Wajahnya berubah memerah, air matanya mengalir begitu deras. Hatinya terasa perih bagai disayat-sayat. Sakit itu menusuk sukmanya yang paling dalam. Tubuhnya limbung dan ambruk dikursi sofa. 'Kenapa aku tidak lagi dicintainya?' ucapnya lirih, tangannya berkali-kali mengusap air matanya yang dipipi. Matanya menerawang kosong. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Keputusasaan menoreh dihati...
Begitulah manusia modern sesungguhnya orang-orang yang menderita, kata Eric Fromm dalam bukunya 'The Art of Loving.' Penderitaan itu akibat kehausan kita untuk dicintai oleh orang lain. Kita sering kali berusaha keras melakukan apapun agar dapat dicintai. Tidak asing kita dengar ada remaja terjerumus ke dalam pergaulan bebas agar dirinya dicintai dan diterima oleh teman sebayanya. Para istri berjuang ikut fitness menguruskan badannya agar dicintai suaminya... Para selebritis tak segan operasi plastik agar tampil cantik di depan penggemarnya. Itulah sebagai upaya agar selalu dicintai orang lain. Semakin keras seseorang berupaya untuk dicintai maka semakin sering pula kita gagal dan kecewa sebab hal itu sangatlah mustahil membuat diri kita dicintai semua orang. Di muka bumi ini memang selalu ada orang yang mencintai diri kita dan ada orang yang membenci kita begitulah hukum kehidupan yang berlaku. Oleh sebab itu manusia modern mengalami gangguan psikologis karena kegagalan untuk dicintai...
Sekarang ini hampir banyak sekali buku yang mengajarkan kita, metode, kiat agar kita dicintai oleh pasangan hidup, teman sekantor, atasan namun sesungguhnya kecintaan makhluk bersifat sementara. Ketika seorang istri berusaha keras mendapatkan cinta suaminya, akhirnya sang istri mendapatkan cinta suami datang dan pergi sesukanya. Sang suami tak mencintai istrinya sepanjang masa. Ada waktu cinta suaminya berkurang atau hilang sama sekali. Demikian sebaliknya suami juga tidak akan mendapatkan cinta istrinya kekal abadi, seperti dalam lantunan lagunya Anang yang berjudul 'Separoh Nyawaku Pergi.' Itulah cermin bahwa kecintaan manusia takkan ada yang pernah abadi...
Pernah ada ustadz muda yang mengatakan kepada saya, menjadi ustadz itu tak ubahnya seperti sopir angkot. Kita harus tunduk dengan kemauan penumpangnya. Jika penumpang ingin turun meski di tempat terlarang, sopirnya harus menghentikan angkotnya, jika sopirnya tidak mau, angkot tidak bakalan pernah dapat penumpang. Menurut Eric Fromm, bila ustadz seperti sopir angkot maka termasuk manusia modern yang tertipu. Mereka berusaha keras agar dicintai oleh orang lain. Bisa saja mendapatkan cintanya tetapi begitu sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh umat maka yang ada hanyalah dirundung kekecewaan dan sakit hati....
Tidak ada salahnya kita simak kata Eric Fromm bahwa, ' Mungkin sudah saatnya kita memberitahukan mereka untuk belajar mencintai.' Eric Fromm menyarankan untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan mencintai. Kebahagiaan hidup kita sangatlah ditentukan pada apa yang kita cintai. Mencintai tidaklah bergantung apakah dirinya dicintai atau dibenci, apapun yang dilakukan tidak lagi didasarkan kepada keinginan untuk dicintai namun dia melakukan apapun karena mencintai yang hakiki. Mencintai yang hakiki adalah mencintai Alloh SWT dan RasulNya. Untuk kita bisa mencintai Alloh SWT dan RasulNya, kita haruslah belajar mencintai kedua orang tua kita, mencintai pasangan hidup kita,mencintai anak-anak kita itulah tahapan paling dasar sampai kemudian kita mencintai kepada sekeliling kita,lingkungan kita, fakir miskin, anak-anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.Di dalam hati terucap dengan lirih tanpa terasa, 'Aku selalu mencintaimu Ya Alloh, Ya Rasulullah. Jadikan kami hamba-Mu yang mencintai setiap makhluk-MU karena-MU.Amin..amin..amin

Note: dan aku pun semakin menyadari bahwa mencintai adalah suatu pekerjaan yang menyenangkan, walaupun orang yang kita cintai bersikap dingin kepada kita tapi ada kepuasan batin tersendiri saat kita menghabiskan sisa umur ini dengan mencintainya. Apapun dan bagaimanapun keadaan orang yang kita cintai baik masalalu atau masa sekarang, penerimaan yang apa adanya, keikhlasan dalam berbagi, meniti sisa hidup dengan mengisi kerinduan yang sempat kosong dengan cinta yang hakiki aku rasa cukup. Menebarkan cinta dan persaudaraan dimana kita memijakkan kaki nie, menebarkan senyuman untuk menguatkan hati orang yang kita sayang gak ada salahnya. Membayar kesalahan dengan menawarkan persahabatan, juga gak salah.. tapi terkadang orang mengartikan lain, biarlah Alloh yang membukakan hatinya. Dan hati ini semakin terbuka saat Alloh memberikan aku sebuah hadiah yang indah, ya aku mengatakan nya hadiah, (dengan sakitku ini) agar aku bisa lebih sabar, lebih ikhlas menerima keputusan-Nya dan lebih lapang. Alhamdulillah Alloh masih sayang aku, dan aku semakin menghargai nikmat sehat yang diberikan Alloh, nikmatnya berkumpul dengan keluarga (walaupun terkadang “berantem” dengan adik-adikku), nikmatnya bekerja dan nikmatnya menghabiskan sisa waktu dengan terus belajar dan insya Alloh mengamalkannya… dan aku sekarang lebih mencintai amanahku, apapun itu, karena salah satu bentuk cintaku pada-Mu… karena aku yakin Engkau sangat mencintaiku… trimakasih Ya Rabb…

Lelaki di Tahun Keduapuluhlimanya


Lelaki di Tahun Keduapuluhlimanya
By Zamzam M. Ma'mun

"Ya..., Umar memang tidak melihat kita, bu. Tapi Rabb-nya Umar senantiasa menatap kita." Masih terdengar di telinga Umar bin Khatab jawaban lembut tapi tajam dari seorang gadis kepada ibunya yang menyuruh agar ia mencampurkan air ke dalam susu yang akan dijualnya. Umar terpesona dengan keluhuran akhlak gadis, anak penjual susu yang dicuri dengarnya semalam, dan hari itu Umar berniat mengumpulkan putera-puteranya. Di hadapan putera-puteranya Umar mengutarakan keinginan agar gadis itu menjadi isteri dari salah satu puteranya. Pernikahan barakah akhirnya berlangsung antara salah seorang putera Umar dengan gadis tersebut. Dan muara dari kisah kasih ini adalah lahirnya Khalifah Rasyidah yang kelima, Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Khatab sebagai sosok bapak, dalam sepenggal kisah bijaknya di atas, mungkin sangat dirindukan oleh banyak anak-anak lelaki yang sudah ingin menikah. "Kapan ya, ayah memanggilku untuk menawarkan seorang gadis cerdik yang shalihah untuk menjadi isteriku" bayang mereka setelah membaca kisah Umar di atas. "Ah, andai ayahku adalah Umar..."
Pernikahan memang selalu dikesankan indah. Atau memang benar-benar indah. Terutama bagi mereka yang ingin segera mengalaminya. Seorang kawan bilang, dunia setelah pernikahan bagi para bujangan adalah alam ghaib yang penuh misteri. Keindahan dan kenikmatannya-juga pahit getirnya-hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah memasuki alam ghaib itu. Dan keindahan itu jadi lebih awal dirasakan jika tanpa disangka-sangka orang tua menawarkan "seseorang" yang sangat sesuai dengan kriteria yang diidamkan-dan tentunya kita dalam kondisi siap. Orang tua yang sangat memahami anaknya, seperti Umar bin Khatab.
Mungkin terlalu melankolis jika seorang lelaki mengharapkan penawaran dari orang tuanya. Tapi, mau gimana lagi, realita yang ada memaksa sikap melankolis itu bertunas. Kesiapan membangun rumah tangga selalu diidentikan dengan kesiapan materi, dan itu seringkali tidak dimiliki oleh kebanyakan lelaki seusia Rasulullah Saw.-ketika Beliau menikah-yang baru saja selesai kuliah. Memang kesiapan materi sangat penting untuk membangun mahligai rumah tangga, terutama kalau kita ingin mencontoh Rasulullah Saw. Selain usianya 25 tahun ketika beliau menikah, kita juga harus tau bahwa mahar Rasulullah untuk masing-masing isterinya tak kurang dari 400 dinar (atau kira-kira senilai 180 juta rupiah, untuk uang sekarang). Tapi itu juga bukan segalanya, bukankah Rasulullah juga menikahkan Sayidina Ali dengan puterinya, Fatimah Az-Zahra, hanya dengan mahar baju besi yang tidak seberapa?
Memasuki usia duapuluh lima tahun, seorang lelaki sering kali dihadapkan pada sebuah pertanyaan wajib, "kapan sih kamu nikah?" setiap orang selalu menanyakan hal tersebut. Atau kalau tidak, ia sendiri yang bertanya kepada diri sendiri. "Ya, kapan ya, aku nikah?"
Dalam lamunan, ketika seorang lelaki yang mendekati usia duapuluh lima tahun bervisualisasi tentang masa depannya, sering kali menciptakan gambaran ideal tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Bagaimana ia ingin menjadi suami dari isteri yang cerdik, cantik dan shalehah; bagaimana ia akan membahagiakan isterinya tersebut dengan memenuhi segala kebutuhannya; bagaimana ia juga akan senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan memberi berbagai hadiah dan perhatian, tidak lupa untuk menjadi menantu yang terbaik bagi ibu-bapak mertua, juga menjadi ipar yang baik; bagaimana ia ingin bisa membangunkan rumah yang luas untuk keluarga kecilnya; bagaimana ia memberi nama putera-puterinya dengan nama-nama yang indah dan baik, mendidik mereka dengan didikan yang baik dan benar. Semuanya dilamunkan dengan sangat ideal dan indah.
Tapi, ketika visualisasinya selesai dan kembali mendarat di bumi ia mendapati realita yang tidak seindah lamunan. Ia pun sadar bahwa semua yang dilamunkannya bukan sesuatu mudah untuk diwujudkan. Tidak mudah mendapatkan isteri yang cantik luar dalam, sama susahnya dengan mendidik diri sendiri agar tampan luar dalam, atau bahkan lebih susah. Bukan perkara gampang mewujudkan kemapanan ekonomi bagi pebisnis pemula. Tidak murah membangun rumah luas dan nyaman untuk keluarga kecilnya. Lalu, tidak gampang juga membagi cinta untuk semua, anak-isteri, ayah-ibu, mertua, dan saudara-saudara. Seringkali segala keterbatasan yang dimiliki mendatangkan kesalah-pahaman bagi orang-orang yang dicintai. Mendidik anak-anak juga tidak semudah memilihkan nama yang indah dan baik untuk mereka. Semuanya perlu persiapan yang benar-benar matang. Dan visualisasi adalah satu tahap persiapan itu. Karena kalau dalam lamunan saja belum pernah ada, apalagi dalam kenyataan.
Dari sini kita temukan inti persoalannya: kesiapan. "Kematangan" banyak lelaki usia duapuluh lima tahun tidak beriringan dengan kesiapan mereka untuk survive di jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Ketidaksiapan secara finansial sering kali menjadi alasan utama untuk menunda pernikahan, padahal jawaban seorang kawan sangat bagus untuk menangkis alasan ini. Orang yang sudah bekerja sebelum menikah mungkin di-PHK , orang yang sudah berwiraswasta sejak masa lajang juga bisa bangkrut, kenapa mereka berani menikah? Sebaliknya, orang yang belum dapat kerja, setelah menikah mungkin dapat pekerjaan, orang yang masih belajar berwiraswasta, setelah menikah mungkin menjadi wiraswastawan yang berhasil, kenapa mereka takut menikah? Persoalannya adalah kepada siapa kita bertawakal? Apakah kita bertawakal kepada instansi tempat bekerja atau kepada Allah? Kalau kita tawakal kepada Allah yang Maha Memberi rizki, kenapa kita terlalu bersandar pada pekerjaan atau kesuksesan bisnis?
Sungguh, yang terpenting dari kesiapan itu bukan ketersediaan, melainkan mentalitas. Kesiapan mental untuk menghadapi apapun kondisi dan situasi kehidupan. Inilah inti ajaran tawakal. Ketersediaan akan ada habisnya, sedangkan mentalitas yang kuat bisa meyelamatkan kita dari segala bentuk ujian dan cobaan hidup. Sayangnya, mentalitas ini pula jarang ditemukan pada kebanyakan lelaki menjelang usia mereka yang keduapuluh lima tahun. Menambah lengkap ketidak-siapan mereka.
Mungkin inilah yang harus dipahami oleh semua lelaki yang mendekati usia duapuluh lima tahun tetapi masih ragu untuk memasuki "alam ghaib" pernikahan. Selain harus tahu juga bahwa usia duapuluh lima tahun yang sesuai contoh Rasulullah adalah duapuluh lima tahun dalam hitungan Tahun Hijriyah, atau sekitar duapuluh tiga tahun setengah dalam hitungan Tahun Masehi. Jadi, kalau sekarang sudah menjelang usia duapuluh lima tahun dalam hitungan Masehi, artinya sudah lewat setahun lebih dari usia Rasulullah ketika Beliau menikah. Nah lho!
Wallahu A'lam.
***
Note: catatan ini semoga menginspirasikan sahabat-sahabat yang dirahmati Alloh,terutama untuk diri saya sendiri, catatan ini saya ambil dari folder lama.
Terkadang bibir ini kelu, saat kita menginjak usia 25 tahun, menjawab pertanyaan banyak orang, dan entah mengapa terlalu banyak tuntutan di masyarakat. Jika kita kembalikan kepada pemilik kita- Alloh SWT- dan berikhtiar sesuai dengan ajaran yang dibenarkan, maka apa yang diragukan?
Seperti yang disampaikan Papa-ku “ rejeki Alloh yang mengatur dan Alloh tidak akan pernah salah dalam memberi rejeki kepada hamba-Nya. Yang terpenting ikhtiar yang benar, dan sedekah karena di dalam rejeki yang kita terima ada rejeki bagian orang lain juga. Trus yen urip kudu sumeleh yo nduk… urip neng dunia mung sepisan manfaatkan dengan baik.”
Ya itulah papaku yang sampai sekarang masih menjadi lelaki sederhana dan mengajarkan ke putrie-putrinya makna kesederhanaan, saling membantu dan ikhtiar yang benar. Papaku kerja sebagai guru paduan suara, ngiringi orgen tunggal dalam acara mantenan atau acara lain, selain itu papa kerja di swasta juga. Perjuangan beliau sungguh luar biasa, dan beliau menikah di usia 23 tahun. Saat dimana beliau masih belum punya penghasilan tetap bahkan sampai sekarang penghasilan beliau tidak tetap tergantung dari jumlah job yang diterima, sungguh Alloh Maha Besar, papa bisa menyekolahkan aku sampai di jenjang perguruan tinggi, ya aku alumni Fakultas Peternakan UGM, dan Alhamdulillah setahun sebelum aku menyandang gelar sarjana aku sudah terikat kontrak dengan perusahaan tempat aku bekerja sekarang. Genap setahun aku bekerja di perusahaan ini.
Kembali ke topic, saat hati sudah yakin dan tidak ada keraguan maka niatkan segala-Nya untuk mencari keridhoan-Nya…
Bismillah langkahkan kaki untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi umat…